Karena Isak

Sesak terisak-isak, karena terdesak emosi yang dibawa sang tuak.
Satu tenggak, masih terbahak-bahak.
Dua tenggak, mulai bersikap congkak.
Tiga tenggak, perasaan teracak-acak.
Empat tenggak, muncul hasrat untuk berbiak.
Lima tenggak, selamat tinggal bijak.
Kemudian rasanya muak, penuh dengan kehendak yang membengkak.
Enam tenggak, aku terkuak, membeludak,
tidak bisa lagi berdiri tegak. Cagak, dimana cagak, aku butuh cagak.
Ketika itulah, mak, aku sadar ini tidak lagi enak,
pun tidur tidak akan nyenyak.
Beginilah aku ingin tampak, di hadap mak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s