Karena Isak

Sesak terisak-isak, karena terdesak emosi yang dibawa sang tuak.
Satu tenggak, masih terbahak-bahak.
Dua tenggak, mulai bersikap congkak.
Tiga tenggak, perasaan teracak-acak.
Empat tenggak, muncul hasrat untuk berbiak.
Lima tenggak, selamat tinggal bijak.
Kemudian rasanya muak, penuh dengan kehendak yang membengkak.
Enam tenggak, aku terkuak, membeludak,
tidak bisa lagi berdiri tegak. Cagak, dimana cagak, aku butuh cagak.
Ketika itulah, mak, aku sadar ini tidak lagi enak,
pun tidur tidak akan nyenyak.
Beginilah aku ingin tampak, di hadap mak.

Manusia Ini Menyeramkan.

Manusia yang sedang kuhadapi saat ini, pada permukaan selalu terlihat tenang dan senang. Ketika berbicara dengannya mengenai emosi negatif, aku iri, bagaimana bisa seseorang dengan mudahnya masalah tidak diambil hati.

Bicaranya tidak banyak, aku kagum. Semua yang terjadi dalam kehidupan memiliki solusi dan tidak perlu diperumit dan dipikirkan terlalu njelimet seperti bagaimana aku selalu memikirkan apapun.

Karena terlampau sering menghabiskan waktu bersama, pada hal tertentu rasanya ia adalah diriku dan diriku adalah dirinya. Aku sudah merasa kami menyatu. Ia mengerti aku dan aku pikir aku mengerti dia.

Namun, ketika akhirnya ia mengeluarkan emosi negatif, bagiku manusia ini menyeramkan. Bukan menyeramkan yang bagaimana, tapi aku khawatir sesuatu akan terjadi pada dirinya. Ketika ia marah, apa yang ia lakukan adalah hal yang aku tidak pernah sangka akan ia lakukan.

Aku pikir aku mengenalnya, namun tiba-tiba timbul rasa kehilangan yang mendalam, ketika ia marah. Ia selalu memiliki cara yang tidak pernah disangka untuk mengeluarkan emosi negatif. Selalu berhasil mengejutkanku. Dan bagiku itu mengkhawatirkan, dari berbagai macam aspek, mulai dari kesehatannya, hingga hubungan kami.

Aku sering merasa hilang terasingkan kala memasuki masa seperti itu. Aku merasa tidak berharga –“bagaimana bisa?” setelah sekian banyak waktu yang kita lalui bersama, saat itu aku merasa aku tidak mengenalmu. Aku menjadi merasa kurang becus dalam mengasihimu–. Aku merasa tidak dipercaya. Aku merasa tidak pernah ada dalam hidupnya. Ada bagian yang secara tiba-tiba kosong dalam diriku, tiap kali kamu mengejutkanku.

Sering aku bertanya-tanya, kenapa ia tidak memaparkan saja padaku apa yang telah aku lakukan sehingga ia tersakiti sedalam itu. Aku pikir hubungan ini milik kami berdua. Jika kau sulit membayangkan kejadian ini, contoh yang dapat aku berikan seperti ini:

kami mengetahui hubungan kami sedang tidak stabil, dia bukan merupakan orang yang suka berkicau pada media sosial, namun tiba-tiba ia menulis pada akunnya kurang lebih mengatakan bahwa ini saatnya untuk move on, welcome freedom.

Jelas aku langsung berasumsi. Aku khawatir. Dia menjadi orang yang kejam karena dia tidak pernah memberi tahu aku bahwa selama ini orang yang ia kasihi tidak memberinya kebebasan; Ia telah membiarkan orang yang ia kasihi menjadi orang nista yang mengekang-kekang orang lain; Ia membiarkan dirinya menghabiskan waktu yang sangat banyak dengan orang yang menyeramkan.

Ingat, aku tidak tahu itu sebetulnya ditujukan untuk siapa, pun dia tidak membicarakannya denganku. Ini hanya asumsiku, yang rasanya seperti mengubur diriku hidup-hidup.

Manusia ini penuh dengan kejutan.

Mungkin kami berdua sebetulnya menyeramkan bagi satu dengan yang lain, hanya dia tak pernah menyampaikannya padaku dan membiarkanku jadi orang jahat.

Feeling Unwell This Morning

Woke up in a very nice place, almost like a palace
with a sad view, tall buildings surround me
making the sun unable to illuminate many parts of its lover

Oh, speaking of lover, making me feel unwell
it’s so sad that not all lovers are happy
When I was little I dreamt of becoming a lover, thought I was gonna be happy all the time.
Fuck those projected images of lovers!!!

There are many people who cannot afford to be a lover, are they lucky?
some others are the lovers of many, or are they the lucky ones?

Guess I’m just losing a sense of lover for myself
that’s why I’m feeling unwell this morning
and I’ve blamed so many other things

In the Midst of Agony – Wild Stare

I wanna sit across the table from you
Staring at you, deeply, wildly, sincerely to make you want me
Be my lover, need me, miss me.
I’m gonna surprise you, with a kind of love you’ve never tasted before.
I want my smile to be desired, I want my skin to be touched, I want myself to be craved, by you.
Greed.

So I stare you, from across the table
with Mac deMarco – My Kind of Woman,
playing loudly in that room
where the table exists.

With the absence of words,
hollowness of touch,
bleary eyed, saying
let’s go home, to a home that doesn’t exist.
Let’s never end this.

I swallowed into you instead, I lost my pride.
There’s a twilight in your eyes, it’s shady
and drawing me in.

Kota III

Tuan pesisir yang tak pernah menyuguhiku angin semilir,

Pagi itu mata-mata masih terpejam, namun dua pasang mata berkaca dalam.
Satu dua rahasia terungkap padaku, Tuan, karena sepasang mata tak sanggup menumpu.

Siang itu bokongku enggan menempel di bangku angkot karena tersangga kayu kakiku.
Saat itu indah, ingin aku abadikan. Kalau tidak di rumahmu, mungkin rasanya tidak akan seperti ini. Seperti yang aku damba-dambakan.

Sore itu aku bersama beberapa jiwa lainnya gelisah, karena tidak mengetahui yang absah.
Biasanya kemudian kami berkesah, dan berkisah, untuk mengusir resah.
Soremu lebih abu-abu dibanding oranye.

Malam.. ah, malam. Malammu mencekam, berada diantara hawa dan adam.
Ketika kebanyakan lampu sudah padam, namun baru datang yang aku idam.

Itulah Tuan mengenai dirimu. Potongan hari dari sejumlah hari. Terimakasih untuk pelajaran serta tamparan hidup yang telah kau berikan.

Kota I

Untuk Jogja yang selalu membuat dilema, pertemuan kita selalu kuharap tak kian sirna.

Walau yang hilir mudik kerap rasa nelangsa, namun nampaknya ini cinta.

Yang dilakukan Jogja sangat sederhana, mengingatkanku rasa menjadi manusia, dan terjaga bersama semesta.

Dua malam lagi dan dari jiwamu aku akan sirna, salam dari segala rasa derita dan bahagia.

Harapan Menjadi Sahaja

Kamu hampir lupa, aku adalah satu garis pada lembarmu yang dulu.
Kamu hampir lupa, dahulu aku satu pendar di ujung gulitamu.

Mungkin kamu tidak tahu, secara tertutur ingatanku tentangmu. Oh, aku telah hanyut, dan dalam bakaku kamu senantiasa dikara. Aku telah buatkan ruang khusus untukmu yang tak sadar selalu berkunjung. Aku senang bersesat-sesat denganmu dalam ruang kosong itu.

Kunjunganmu, membuatku merasa

ada.